Jumat, 21 November 2014

Manfaat olahraga bagi kesehatan anak dan remaja


Aktivitas fisik atau olahraga tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan fisik anak dan remaja seperti meningkatkan lean body mass, kekuatan otot dan tulang, meningkatkan kesehatan jantung, peredaran darah, dan mengontrol berat badan. Lebih jauh, olah raga memiliki manfaat nonfisik, antara lain meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan belajar dan berlatih, meningkatkan kesehatan mental psikologis, dan membantu anak mengurangi stres.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), seorang anak membutuhkan sekitar 60 menit berolahraga fisik setiap harinya. Total 60 menit ini tidak harus didapatkan dalam satu waktu yang sama, tetapi dapat dijumlahkan dalam sehari menjadi 60 menit.

Bentuk olahraga yang dianjurkan antara lain jogging, olahraga aerobik, berlari, naik sepeda cepat, berjalan menanjak, dan bela diri. Olahraga jenis ini termasuk dalam vigorous-intensity activity, yang menggunakan energy lebih dari 7 kcal per menit dan memiliki manfaat lebih baik dibandingkan dengan moderate-intensity yang menggunakan energi sekitar 3,5-7 kcal per menit. Contoh dari olahraga moderate-intensity antara lain berjalan hingga berjalan cepat, senam, dan naik sepeda santai.

Salah satu masalah yang harus kita perhatikan dalam keseharian dan kesehatan anak kita adalah physical inactivity, yaitu anak kurang melakukan kegiatan fisik. Contoh keadaan ini antara lain anak cenderung memilih diantar ke sekolah menggunakan kendaraan dibandingkan bersepeda atau jalan kaki, anak memilih bermain video games atau menonton televisi dibanding bermain di luar rumah dan lainnya. Kadang, orangtua juga turut mendukung kondisi ini karena berbagai alasan seperti takut membiarkan anak bermain di luar rumah yang dapat membahayakan diri anak. AAP merekomendasikan bahwa anak usia di bawah 2 tahun sebaiknya tidak dibolehkan menonton televisi, sedangkan anak usia di atas 2 tahun hanya boleh menonton televisi paling lama 2 jam per hari.

Olahraga bayi usia di bawah 1 tahun
Stimulasi merupakan sarana bermain dan belajar bagi bayi. Orangtua dapat mulai mengajarkan aktivitas fisik yang akan membantu perkembangan, khususnya perkembangan motor kasar. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah bayi harus diletakkan di tempat yang aman dan orangtua memfasilitasi aktivitas fisik serta tidak menghalangi bayi untuk bergerak baik untuk gerakan motor kasarnya maupun perkembangan lainnya. Dengan memberikan kebebasan bayi bergerak di tempat yang aman, akan memberikan kesempatan bayi untuk mengeksplorasi lingkungan, belajar, serta membentuk dan memperkuat ototnya.

Olahraga anak usia 1-4 tahun
Pada periode usia ini, seorang anak diharapkan sudah dapat berjalan, berlari, dan melompat. Pada masa ini, olahraga diperlukan untuk memperkuat kemampuan dasar motor kasar dan kemudian melatih fungsi dan kemampuan motorik, serta perkembangan lainnya seperti kemampuan koordinasi mata-tangan (motor-halus), keseimbangan, dan ritme gerak fisik. Bentuk paling sering dari aktivitas fisik pada masa ini adalah bermain secara aktif seperti berjalan, berlari, memanjat, dan lainnya. Bentuk lain adalah yang disebut interactive guided play atau bermain interaktif dengan arahan seperti berlatih menari, yang juga melatih anak untuk mengikuti instruksi.

Sebuah penelitian di Iowa, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa anak-anak yang secara aktif bermain memperlihatkan pertumbuhan dan perkembangan tulang yang optimal. Banyak penelitian lain yang membuktikan bahwa bermain aktif mencegah anak dari kelebihan berat badan dan obesitas.

Olahraga anak usia 5-10 tahun
Pada usia ini, anak sudah lebih lincah dan dapat beraktivitas dalam bentuk permainan yang lebih bervariasi. Pada usia 5-6 tahun, anak mulai dapat bermain yang memerlukan sedikit instruksi, fokus pada kesenangan, bukan fokus pada kompetisi. Bentuk kegiatan berupa aktivitas fisik yang berulang-ulang, hindari gerakan yang terlalu kompleks dan dapat melatih keterampilan berpikir. Kegiatan yang dilakukan antara lain berlari, berenang, melempar, dan menangkap bola. Pada usia 7-11 tahun, aktivitas fisik juga lebih kepada kesenangan bukan kompetisi, bermain dengan peraturan dan instruksi yang fleksibel. Misalnya bermain sepak bola yang memerlukan aktivitas yang lebih kompleks dan keterampilan kognitif, serta perlu bekerja sama dalam tim.

Usia remaja 11-21 tahun
Pada usia ini, anak sudah memasuki masa remaja. Olahraga juga membentuk otot dan meningkatkan kekuatan otot dan tulang serta mengurangi lemak tubuh sehingga menjaga kesehatan fisik. Selain itu, olahraga dapat mengurangi depresi, cemas, dan meningkatkan percaya diri dan keahlian. Remaja memiliki banyak pilihan dan waktu yang lebih panjang dalam berolahraga. Olahraga yang bersifat kompetitif merupakan tantangan tersendiri bagi remaja.

Tips
Intake cairan untuk olahraga
Untuk menghindari dehidrasi, sebaiknya minumlah sebelum merasa haus karena jika haus, berarti telah terjadi dehidrasi ringan. Sebaiknya minum cairan yang sejuk (bukan dingin), sebelum, selama dan setelah olahraga. Jumlah sekitar 200-250 cc (1 gelas) setiap 20 menit berolahraga. Sport drinks umumnya mengandung 6-8 persen gula dan elektrolit. Jenis minuman ini bermanfaat untuk olahraga yang berlangsung lebih dari satu jam.

Pencegahan cedera saat berolahraga

  • Melakukan pemanasan sebelum berolahraga.
  • Menggunakan pelindung sesuai kebutuhan seperti helm.
  • Batasi waktu untuk olahraga yang spesifik, yang membutuhkan gerakan yang sama secara berulang-ulang.
  • Perhatikan kecepatan gerakan dan berhati-hatilah akan terjadi cedera akibat gerakan. 

Beberapa Tanda Anak Kecanduan iPad


Anak-anak zaman sekarang sudah kenal dengan gadget. Permainan yang ada di gadget membuatnya bisa bertahan lama ketika memegangnya. Sejumlah orangtua bahkan ada yang sengaja memberikan iPad untuk sang anak. Namun, waspada jika anak Anda kecanduan gadget.

Jika anak memiliki iPad dan menghabiskan waktu terlalu lama dengan dengan gadget, itu tandanya ia sudah kecanduan. Situs Magforwomen, Senin(20/1/2014), menguraikan beberapa tanda anak kecanduan iPad:

1. Bawa iPad ke kamar mandi
Anda tahu bahwa anak Anda jadi kecanduan ketika melihat ia membawa iPad ke kamar mandi. Anak Anda tak ingin meletakkannya meski untuk urusan pribadi. Ini sudah menjadi tanda orangtua harus bertindak serius agar menyingkirkan iPad darinya.

2. Percakapan satu kata
Ketika orangtua mencoba berbicara atau memberitahu sesuatu kepada anaknya, jawaban yang muncul hanya satu kata yakni `ya` atau `tidak`, buruknya lagi jika anak menjawab dengan geraman.
Jika kondisinya seperti ini, Anda harus khawatir. Saat ini, orangtua melihat anaknya hanya menatap layar iPad dan tak memandang ke wajah Anda ketika berbicara bersama Anda.

3. iPad di meja makan
Tanda lain bahwa anak kecanduan iPad adalah ketika Anda melihat ada iPad di meja makan. Anda akan takjub melihat betapa cekatannya dia saat makan tetap bermain iPad di saat yang sama. Ini jelas bukan pertanda yang baik.

4. Curang
Setelah lampu mati, Anda akan melihat cahaya bersinar di bawah selimut. Anak Anda mencoba bermain iPad tanpa Anda melihatnya atau mencoba menyembunyikan Anda.
Ketika anak Anda mencoba menyembunyikan penggunaan iPad, itu menandakan ia menghabiskan terlalu banyak waktu bersamanya.

5. iPad dibawa terus
iPad akan pergi kemanapun dia pergi dan itu.

6. Duduk di sofa hanya dengan iPad
Tak ada yang bisa orangtua lakukan untuk bisa membuatnya bermain keluar atau melakukan hal yang Anda minta. Bahkan ancaman tak berpengaruh ketika anak sudah kecanduan iPad.
Anak-anak bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya dan mengeluh ketika orangtua memberitahukan  bahwa mereka sudah terlalu lama bermain iPad.

Kiat Menjaga Kesehatan Anak Saat Musim Hujan


Biasanya, hujan adalah momen menyenangkan bagi anak-anak. Meski basah dan kotor, air menggenang mereka dengan senang hati berkeliaran ke sana kemari menikmati suasana bersama teman-temannya. Namun, orangtua harus ingat bahwa musim hujan juga membawa sejumlah masalah kesehatan anak.

Hujan bisa menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui air. Di musim banyak air ini, perkembangbiakan nyamuk serta kuman meningkat.Tetaplah menjaga kebersihan rumah demi mencegah penyakit. Karena itu, beberapa tips di bawah ini perlu diperhatikan untuk tetap menjaga kesehatan anak di musim hujan.

1. Bekali jas hujan dan payung
Ketika anak-anak ke sekolah, berikan payung, jas hujan, atau sepatu bot untuk melindungi mereka terkena hujan dan kemungkinan terkontaminasi dengan berbagai bakteri saat terkena air hujan yang mengalir di jalan.

2. Kosongkan dan tutupi wadah air
Nyamuk DPD berkembang biak di genangan air. Itulah mengapa perlu mengosongkan atau menutup wadah air di sekitar rumah untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk di dalamnya.

3. Dorong diet seimbang
Pencernaan selama musim hujan cukup lambat sehingga memberikan si kecil cukup banyak makanan bisa menyebabkan gangguan pencernaan. Cobalah makanan yang kaya antioksidan untuk mencegah infeksi.

4. Makan segar
Cuci buah dan sayuran sebelum memberikannya ke si kecil. Sayuran hijau cenderung membawa kuman, jadi cobalah mengukusnya dalam waktu tertentu agar bersih.

5. Mandi
Pastikan Anda menambahkan cairan antiseptik ke ember air mandi si kecil.

6. Berjalan
Hindari berjalan di taman segera setelah hujan deras dan hindari tempat yang banyak genangan air. Tempat ini licin dan anak-anak mudah terluka jika tergelincir.

7. Hati-hati jajanan
Makanan yang terkena cuaca mengandung bakteri yang menyebabkan gangguan pencernaa. Lebih buruk lagi, itu bisa menyebabkan keracunan makanan dan membahayakan kesehatan anak.

8. Perawatan kaki
Pastikan kaki anak Anda bersih dan kering setiap saat. Kelembaban menyebabkan penyakit musiman seperti infeksi jamur dan kaki atlet. Usahakan sepatu dan kaus kaki anak Anda kering setiap saat.

9. Pastikan anak minum air bersih
Sejumlah penyakit seperti diare dan kolera disebabkan asupan air yang terkontaminas. Selalu pastikan anak Anda minum air bersih untuk menghindari infeksi dan penyakit dari air.

10. Anak bimbing cuci tangan dengan benar
Ajarkan anak Anda mencuci tangan dengan benar untuk melindungi mereka dari kuman dan infeksi yang ditularkan.

Malaria penyakit yang harus di cegah dan diatasi


Miliaria merupakan salah satu masalah kulit yang sering dijumpai pada bayi dan anak. Hal ini ditandai bintil-bintil kecil berwarna merah yang kadang-kadang berisi air, disertai atau tidak kulit yang tampak kemerahan. Pada bayi sering disertai gejala rewel bahkan mengganggu tidurnya, anak yang lebih besar akan sering menggaruk bagian-bagian yang terkena miliaria, hal ini disebabkan karena rasa gatal.

Kulit bayi masih dalam tahap perkembangan dan penyempurnaan. Misalnya saja, proses penyerapan dan pengeluaran keringat belum berjalan semestinya. Akibatnya, sering dijumpai bayi yang berkeringat berlebihan. Normalnya, butiran keringat bisa keluar melalui pori-pori kulit. Karena penyebab yang belum diketahui, kulit ari bayi yang mestinya selalu berganti, menjadi tidak berganti. Kulit ari yang tidak berganti itu menyumbat pengeluaran keringat. Kumpulan keringat ini kemudian mendesak kulit sehingga terbentuk lepuh-lepuh halus sebesar pangkal jarum pentul. Namun ada kalanya, di antara lepuh-lepuh halus itu timbul bintil-bintil merah berukuran kecil yang terasa gatal. Daerah yang rawan terhadap serangan biang keringat ini adalah dahi, leher, bahu, dada, punggung, dan lipatan-lipatan kulit.

Miliaria bisa kambuh berulang-ulang, terutama ketika suhu udara sedang panas. Bila biang keringat ini mengalami iritasi dan kontak dengan kuman di kulit, biang keringat ini akan terinfeksi. Bila tidak ditangani dengan baik, biang keringat yang terinfeksi ini dapat menjadi bisul (abses) yang berisi nanah. Bisul ini harus diobati.

Cara Menanganinya
Bila si kecil sudah mengalami biang keringat, lakukan langkah-langkah ini:

  • Setiap kali anak berkeringat, segera ganti bajunya. Sebelumnya, siapkanlah alat-alat yang dibutuhkan, seperti waslap, baskom berisi air hangat, baju yang bersih, dan perlak.
  • Keringkan kulit yang ada biang keringatnya dengan waslap bersih yang telah dibasahi air hangat. Bisa juga dengan mandikan Si kecil menggunakan air hangat (usahakan agar jangan terlalu panas karena akan merangsang timbulnya keringat).
  • Biarkan tubuh Si kecil tanpa baju untuk beberapa saat sampai kulit dan lipatan-lipatan kulitnya menjadi kering dengan sendirinya. Tujuannya, mencegah agar kulit yang terkena biang keringat tidak bertambah parah karena bergesekan dengan handuk pada waktu dikeringkan.
  • Boleh diusapkan sedikit bedak, terutama di bagian punggung dan dada anak.
  • Kenakan baju yang kering dan bersih. Baju tersebut sebaiknya terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat, seperti bahan katun dan bahan kaos sehingga nyaman dan tidak membuat anak mudah merasa kepanasan.
  • Bila peradangan yang terjadi cukup banyak, Anda bisa mengoleskan salep atau bedak khusus sesuai anjuran dokter.

Cara Mencegahnya

1. Pencegahan lebih baik daripada mengobati. Sebagian besar miliaria akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Bahkan, Anda sebenarnya juga dapat mengurangi timbulnya biang keringat pada si kecil antara lain dengan menjaga kenyamanan lingkungan sekitar si kecil, memakaikan baju yang terbuat dari jenis-jenis bahan yang mudah menyerap keringat, lembut, dan tidak ketat pada si kecil.

2. Beberapa kondisi menyebabkan bayi atau anak dibawa ke dokter, seperti kondisi biang keringat yang tidak membaik setelah penanganan selama lebih dari 3 hari, timbul demam atau rasa sakit/gatal yang berat, dan timbul tanda-tanda infeksi seperti terlihat nanah atau sering berulang beberapa kali dalam waktu yang pendek sehingga mengganggu aktivitas anak sehari-hari. Agenalkes.com

Memilih popok bayi buat kenyamanan si kecil


Pemilihan dan penggunaan popok bayi boleh dibilang merupakan salah satu topik yang akan selalu hangat untuk dibahas oleh orangtua. Kain atau popok sekali pakai? Bahan apa yang terbaik? Kapan harus diganti? Mengapa timbul ruam popok? Dan masih banyak lagi. Untuk menjawabnya, berikut akan kami bahas hal-hal penting yang perlu Anda ketahui tentang popok bayi.

a. Memilih Bahan yang Tepat

Jenis popok yang paling banyak beredar di pasaran adalah popok kain dan popok sekali pakai. Popok yang ideal, entah apapun bahannya, harus dapat menjaga kestabilan pH, dan keringnya kulit serta mencegah terjadinya ruam. Untuk menopang fungsi tersebut, popok umumnya disusun menjadi 3 lapisan yaitu lapisan dalam, lapisan inti yang mengandung bahan absorben, dan lapisan luar.

Pada popok sekali pakai, lapisan dalam umumnya berpori untuk mengurangi gesekan kulit dan ditambah dengan formula khusus, seperti zinc oxide, aloe vera dan petroleum untuk menjaga agar kulit tetap kering. Bahan absorben lapisan inti yang paling sering digunakan adalah selulosa dan absorbent gelling material (AGM) atau superabsorbent, yang terbuat dari sodium poliakrilat. AGM memiliki keunggulan dapat memisahkan cairan urin dari feses dengan cepat, menahan cairan di matriksnya, dan menjaga kestabilan pH. Lapisan luar popok sekali pakai umumnya bersifat kedap air, tetapi dapat juga terbuat dari bahan yang berpori.

Popok kain juga tersedia dengan beragam inovasi baru dalam hal komposisi. Lapisan dalamnya kadang-kadang memakai bahan sekali pakai. Bahan absorben yang sering digunakan pada popok kain antara lain polyester (sering disebut microfiber), katun, bambu, dan rami. Bambu memiliki daya absorbsi yang sangat tinggi, tetapi bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi dapat menimbulkan efek negatif. Di sisi lain, polyester juga memiliki kemampuan menyerap yang baik, tetapi cenderung berkurang seiring waktu dan lebih sulit dibersihkan sehingga sering menimbulkan bau. IDAI sendiri merekomendasikan pemilihan bahan katun pada popok kain untuk menjaga ventilasi yang baik dengan kulit, dan perlu disadari bahwa pemakaian popok merupakan salah satu faktor risiko terjadinya infeksi saluran kemih.

Lalu, di antara keduanya, manakah yang lebih baik? Meskipun studi menunjukkan kecenderungan bahwa untuk menghindari ruam popok, bahan selulosa popok sekali pakai lebih baik daripada popok kain, bahan AGM lebih baik daripada selulosa, lapisan dalam berformula khusus lebih baik daripada yang tanpa formula, dan bahan luar yang berpori lebih baik daripada yang waterproof, jenis popok mana yang lebih unggul masih belum dapat dipastikan hingga saat ini. Tentunya, perawatan dan waktu penggantian yang tepat memegang peranan yang penting dalam penggunaan popok untuk si kecil. Perkiraan biaya, efek lingkungan dari pencucian atau pembuangan popok dan tenaga yang dikeluarkan oleh ibu atau pengasuh juga perlu dipertimbangkan.      

b. Pemakaian dan Penggantian

Sebelum mengganti popok, perlu diingat bahwa beberapa bayi cenderung untuk langsung berkemih ketika popoknya dibuka dan terpapar udara. Oleh karena itu, usahakan agar tubuh si kecil tetap tertutup semaksimal mungkin, sehingga Anda dapat menghindari tercecernya air kemih yang tidak perlu.

Sebelum membuka popok yang kotor, siapkan popok yang baru di bawahnya. Setelah membuka popok kotor, usap pantat bayi dengan bagian depan dan dalam popok, lalu geser posisinya ke bawah pantat bayi. Hal ini sekaligus dapat menjaga agar popok yang bersih tidak terkena kotoran. Setelah itu, bersihkan anus bayi dan daerah kemaluan dengan lap bersih atau tisu basah yang tidak mengandung pewangi dan alkohol. Jangan lupa keringkan untuk mencegah pertumbuhan kuman. Buang popok dan tisu kotor, lalu pakaikan popok baru yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Pastikan bahwa popok yang dipakaikan cukup rapat sehingga tidak terjadi kebocoran, tetapi juga tidak terlalu ketat untuk menghidari terjadinya ruam popok.

Penting untuk diingat bahwa popok harus selalu diganti setiap selesai berkemih atau buang air besar. Bila menggunakan bahan AGM, gantilah sesering mungkin, sekitar 2-3 jam sekali. Untuk menentukan perlu tidaknya penggantian popok, Anda dapat menggunakan sistem alarm, yaitu dengan melihat perubahan warna pada popok bila terkena urin.

Pada bayi baru lahir dengan tali pusat yang belum lepas, pastikan bahwa popok tidak mengenai bagian tersebut untuk menghindari pajanan urin dan feses. Bagian ini perlu dijaga agar terpapar udara sesering mungkin.

c. Menghindari Ruam Popok

Ruam popok merupakan suatu keadaan iritasi pada kulit yang tertutup popok. Faktor penyebabnya sangat beragam, mulai dari faktor mekanik, kimia, dan infeksi jamur. Pemakaian popok yang ketat dan bahan yang tidak tepat dapat meningkatkan gesekan terhadap kulit dan mencetuskan ruam. Selain itu, pajanan urin dan feses dapat menyebabkan kulit basah dan mempermudah masuknya bahan iritan yang terkandung di dalamnya. pH urin yang bersifat basa turut memperburuk iritasi yang timbul. Hal ini juga mempermudah infeksi jamur Candida albicans berkembang dan menimbulkan ruam yang lebih berat.

Cara untuk menghindari kondisi ini sebenarnya cukup mudah. Selain memperhatikan pemilihan dan pemakaian popok seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya, Anda juga perlu menjaga agar kulit daerah popok selalu bersih dan kering. Bersihkan juga daerah kelamin dengan air hangat dan sabun bayi saat mandi. Setelah itu, jangan lupa mengaplikasikan krim khusus untuk melindungi dari terjadinya kerusakan kulit akibat gesekan dan kelembaban yang berlebihan.

Kesimpulannya, apapun jenis popok yang Anda pilih, utamakan kebersihan dan kenyamanan si kecil!

Referensi:

  1. Agrawal R 2013. Diaper Dermatitis. Diunduh pada 18 Juli 2014 dari http://emedicine.medscape.com/article/911985-overview
  2. American Academy of Pediatrics 2013. Changing Diaper. Diunduh pada 18 Juli 2014 dari http://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/diapers-clothing/Pages/Changing-Diapers.aspx
  3. American Academy of Pediatrics 2013. Diaper Rash Solution. Diunduh pada 18 Juli 2014 dari http://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/diapers-clothing/Pages/Diaper-Rash-Solution.aspx
  4. American Academy of Pediatrics 2013. The Art of Diapering. Diunduh pada 18 Juli 2014 dari http://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/diapers-clothing/Pages/The-Art-of-Diapering.aspx
  5. Baer EL, Davies MW, Easterbrook KJ 2006. Disposable nappies for preventing napkin dermatitis in infants (Review). Cochrane Database of Systematic Reviews Issue 3, hal 1-20. Diunduh pada 18 Juli 2014 dari http://espace.library.uq.edu.au/eserv.php?pid=UQ:8003&dsID=mwd_cr_03_06.pdf
  6. Bikowski J 2011. Update on Prevention and Treatment of Diaper Dermatitis. Practical Dermatology for Pediatrics, Juli, hal.16-19. Diunduh pada 18 Juli 2014 dari http://bmctoday.net/practicaldermatologypeds/pdfs/Peds0811_Ftr_DiaperDermatitis.pdf
  7. Ikatan Dokter Anak Indonesia 2013. Penggunaan Popok Bayi dan Anak untuk Mencegah Infeksi Saluran Kemih. Diunduh pada 18 Juli 2014 dari http://idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/penggunaan-popok-bayi-dan-anak-untuk-mencegah-infeksi-saluran-kemih-2.html

Penulis : Agenalkes.com

Pemberian susu formula pada bayi baru lahir


Keunggulan ASI sebagai nutrisi bayi telah banyak dipelajari dan dibuktikan oleh para peneliti sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan ASI eksklusif untuk bayi sampai berumur 6 bulan dan kemudian dilanjutkan bersama makanan pendamping ASI sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih. Meskipun demikian angka menyusui eksklusif di Indonesia menurut Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 baru mencapai 32% dan pula, bayi yang dilahirkan di fasilitas kesehatan cenderung diberi susu formula.

Di luar jalur medis, pemerintah Indonesia membuktikan komitmennya dalam menurunkan angka kematian bayi dan mendukung pemberian ASI eksklusif dengan mengeluarkan Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009, pasal 128 yang menekankan hak bayi untuk mendapat ASI eksklusif kecuali atas indikasi medis dan ancaman hukuman pidana bagi yang tidak mendukungnya, termasuk diantaranya para petugas kesehatan.

Bab ini akan mengemukakan alasan medis yang dapat diterima untuk memberi susu formula pada bayi baru lahir yaitu beberapa situasi khusus dimana ASI memang tidak boleh diberikan, atau susu formula diperlukan sementara atau diperlukan tambahan susu formula disamping pemberian ASI. Namun sekali lagi, setiap keputusan pemberian susu formula terutama pada neonatus sampai usia 6 bulan, perlu dipertimbangkan keuntungannya dibandingkan dengan kerugian yang mungkin timbul dikemudian hari.

Panduan pemberian susu formula pada bayi baru lahir

A.1. Kontra indikasi mendapat ASI

Pada beberapa kelainan metabolik / genetik, tubuh tidak mempunyai enzim tertentu untuk mencerna salah satu komponen dalam susu, baik susu manusia maupun hewan sehingga bayi tidak boleh menyusu. Bayi tersebut memerlukan formula khusus yang disesuaikan dengan kebutuhannya dan memerlukan penanganan komprehensif antara dokter anak, ahli penyakit endokrin, metabolik, dan gizi. Di banyak negara maju, uji penapisan untuk jenis kelainan metabolik dilakukan segera setelah bayi lahir.

Galaktosemia: penyakit ini disebabkan tidak adanya enzim galactose – l -phosphate uridyltransferase yang diperlukan untuk mencerna galaktosa, hasil penguraian laktosa. Bentuk klasik bisa berakibat fatal, sedangkan bentuk ringan menyebabkan gagal tumbuh dan membesarnya organ hati dan limpa ( hepato – splenomegali). ASI mengandung laktosa tinggi sehingga bayi harus disapih, diberi susu tanpa laktosa, selanjutnya penderita harus diet makanan tanpa galaktosa sepanjang hidupnya.

Maple syrup urine disease, pada penyakit ini tubuh tidak dapat mencerna jenis protein leusin, isoleusin dan valine. Bayi tidak boleh mendapat ASI atau susu bayi biasa, dan memerlukan formula khusus tanpa leusin, isoleusin dan valine.

Fenilketonuria, memerlukan formula tanpa fenilalanin. Dengan diagnosis dini, disamping pemberian susu khusus dianjurkan untuk diberikan berselang-seling dengan ASI karena kadar fenilalanin ASI rendah dan agar manfaat lainnya tetap diperoleh asalkan disertai pemantauan ketat kadar fenilalanin dalam darah.
A.2. Pemberian susu formula pada bayi kurang bulan (BKB)

Bayi kurang bulan memerlukan kalori, lemak dan protein lebih banyak dari bayi cukup bulan agar dapat menyamai pertumbuhannya dalam kandungan. ASI bayi prematur mengandung kalori, protein dan lemak lebih tinggi dari ASI bayi matur, tetapi masalahnya adalah ASI prematur berubah menjadi ASI matur setelah 3 -4 minggu. Jadi untuk BKB kurang dari 34 minggu setelah 3 minggu kebutuhan tidak terpenuhi lagi.

Volume lambung BKB kecil dan motilitas saluran cerna lambat sehingga asupan ASI tidak optimal. Untuk merangsang produksi ASI, diperlukan isapan yang baik dan pengosongan payudara. Refleks mengisap bayi prematur kurang / belum ada, akibatnya produksi ASI sangat tergantung pada kesanggupan ibu memerah.

Beberapa penelitian klasik antara lain oleh Lucas dan Schanler telah membuktikan manfaat ASI pada bayi prematur, akan mengurangi hari rawat, menurunkan insidensi enterokolitis nekrotikans (EKN) dan  menurunkan kejadian sepsis lanjut, hal hal yang sangat bermakna untuk perawatan BKB kecil di Indonesia. Sehingga perlu diusahakan memberi kolostrum (perah) terutama pada perawatan bayi di hari hari pertama.

Untuk mengatasi masalah nutrisi selanjutnya, setelah ASI prematur berubah menjadi ASI matur dianjurkan penambahan penguat ASI (HMF atau human milk fortifier, saat ini belum tersedia secara meluas di Indonesia). Penguat ASI adalah suatu produk komersial berisi  karbohidrat, protein dan mineral yang sangat dibutuhkan bayi kurang bulan. HMF yang proteinnya berasal dari susu sapi, biasanya  dicampurkan dalam air susu ibu bayi sendiri . Bila tidak tersedia penguat ASI, pemberian susu prematur dapat dibenarkan terutama untuk bayi prematur yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 32 minggu atau berat lahir kurang dari 1500 gram. Apabila terdapat alergi terhadap susu sapi sebaiknya susu formula yang diberikan adalah susu formula yang telah dihidrolisis sempurna. Schanler menemukan pemberian HMF pada ASI donor kurang bermanfaat mungkin karena prosedur pemanasan yang harus dilalui. Selanjutnya, bila bayi sudah stabil, susu prematur dapat diberikan dengan Alat Bantu Laktasi (Lact Aid / Suplementer) untuk melatih bayi belajar mengisap

A.3. Pemberian susu formula pada bayi cukup bulan (BCB)

Masih banyak ibu yang memberi tambahan susu formula pada bayinya yang cukup bulan dan sehat karena merasa ASInya belum keluar atau kurang. Salah satu penyebab adalah kurangnya informasi bahwa  memberi susu formula terutama pada hari hari pertama kelahiran mungkin mengganggu produksi ASI, bonding, dan dapat menghambat suksesnya menyusui dikemudian hari. Bayi yang diberi formula akan kenyang dan cenderung malas untuk menyusu sehingga pengosongan payudara menjadi tidak baik. Akibatnya payudara menjadi bengkak sehingga ibu kesakitan, dan akhirnya produksi ASI memang betul menjadi kurang. Belum lagi akibat pemberian susu formula, masalah medis lain yang mungkin timbul adalah perubahan flora usus, terpapar antigen dan kemungkinan meningkatnya sensitivitas bayi terhadap susu formula (alergi) dan bayi kurang mendapat perlindungan kekebalan dari kolostrum yang keluar justru di hari hari pertama kelahiran

Bagi ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan, peraturan rumah bersalin / rumah sakit serta sikap dan dukungan petugas kesehatan sangat mempengaruhi keberhasilan mereka menyusui di kemudian hari. Apabila secara rutin diberikan informasi dan motivasi kepada ibu hamil, diberi kesempatan untuk inisiasi menyusu dini, kemudian didukung dan dibantu mempraktekkan teknik menyusui yang benar selama ibu dirawat, kemungkinan ibu akan berhasil menyusui eksklusif sehingga tambahan pengganti ASI tidak diperlukan .

Pertimbangan memberi tambahan susu formula pada BCB disamping ASI:

1.  Bayi yang berisiko hipoglikemia dengan gula darah yang tidak meningkat meskipun telah disusui dengan baik tanpa jadwal atau diberi tambahan ASI perah. Risiko hipoglikemi dapat terjadi pada bayi kecil untuk masa kehamilan, pasca stress iskemik intrapartum, dan bayi dari ibu dengan diabetes mellitus terutama yang tidak terkontrol. Tata laksana yang dianjurkan adalah:

  • segera setelah lahir bayi disusui tanpa jadwal, dan jaga kontak kulit dengan ibu agar tidak hipotermi (untuk mengatasi hipotermi bayi memerlukan banyak energi)
  • gula darah plasma hanya diukur bila ada risiko atau ada gejala hipoglikemia dan sebaiknya diukur sebelum minum / umur bayi 4-6 jam.
  • dibenarkan memberi suplemen ASI perah atau susu formula bila gula darah < 2.6 mmol (40 mg/dl) dan diulang 1 jam setelah minum ASI. mencukupi, penambahan susu formula dikurangi dan akhirnya dihentikan.
  • bila gula darah tetap tidak meningkat ikuti tata laksana penanganan hipoglikemi sesuai panduan rumah sakit.

2.   Bayi yang secara klinis menunjukkan gejala dehidrasi (turgor/ tonus kurang, frekuensi urin < 4x setelah hari ke-2, buang air besar lambat keluar atau masih berupa mekonium setelah umur bayi > 5 hari).

3.   Berat bayi turun 8 – 10% terutama bila laktogenesis pada ibu lambat.

4.   Hiperbilirubinemia pada hari-hari pertama, bila diduga produksi ASI belum banyak atau bayi belum bisa menyusu efektif. Kuning karena ASI (breastmilk jaundice), bila bilirubin melebihi 20 – 25 mg/dL pada bayi sehat. Anjuran untuk membantu diagnosis dengan menghentikan ASI 1-2 hari sambil sementara diberi susu formula. Bila bilirubin terbukti menurun, ASI dimulai kembali.

5.  Lain-lain: bayi terpisah dari ibu, bayi dengan kelainan kongenital yang sukar menyusu langsung (sumbing, kelainan genetik). Dapat kita simpulkan, bahwa pada kasus-kasus di atas suplemen susu formula hanya diberikan sampai masalah teratasi sambil bayi terus disusui. Setelah itu ibu dan bayinya harus dibantu dan didukung agar bayi tetap mendapat ASI eksklusif.

Catatan:

Pengganti ASI diberikan memakai sendok, cangkir ataupun selang orogastrik. Sementara itu ibu dianjurkan sering-sering    menyusui dan memerah payudara (4-5x sehari).

Pemeriksaan kadar gula darah jam-jam pertama kelahiran tidak diperlukan pada bayi cukup bulan sehat.  
B. Kondisi pada ibu

1. Indikasi untuk tidak menyusui
Kondisi kesehatan ibu merupakan kontraindikasi untuk menyusui, namun dengan beberapa pertimbangan .

a) Ibu HIV positif

Virus HIV juga ditularkan melalui ASI.

Rekomendasi dari WHO (November 2009) untuk ibu HIV positif
Tidak menyusui sama sekali bila — pengadaan susu formula dapat diterima, mungkin dilaksanakan, terbeli, berkesinambungan dan aman (AFASS acceptable, feasible, affordable, sustainable dan safe).

Bila ibu dan bayi dapat diberikan obat-obat ARV (Anti Retroviral) dianjurkan menyusui eksklusif sampai bayi  berumur 6 bulan dan dilanjutkan menyusui sampai umur bayi 1 tahun bersama dengan tambahan makanan pendamping ASI yang aman.

Bila ibu dan bayi tidak mendapat ARV, rekomendasi WHO tahun 1996 berlaku yaitu ASI eksklusif yang harus diperah dan dihangatkan sampai usia bayi 6 bulan dilanjutkan dengan susu formula dan makanan pendamping ASI yang aman.

b) Ibu penderita HTLV (Human T-lymphotropic Virus) tipe 1 dan 2 Virus ini juga menular melalui ASI. Virus tersebut dihubungkan dengan beberapa keganasan dan gangguan neurologis setelah bayi dewasa. Bila ibu terbukti positif, dan syarat AFASS dipenuhi, tidak dianjurkan memberi ASI.

c) Ibu penderita CMV (citomegalovirus) yang melahirkan bayi prematur juga tidak dapat memberikan ASInya.

2. Indikasi untuk sementara tidak menyusui
Pada ibu perlu dijelaskan bahwa penghentian menyusui hanya sementara dan ibu dapat melanjutkan menyusui bayinya kembali sesuai dengan perkembangan kesehatannya. Selain itu, petugas kesehatan harus dapat memberi informasi cara mempertahankan produksi ASI dan bila perlu rujuklah pada konsultan atau klinik laktasi.

Ibu sakit berat sehingga tidak bisa merawat bayinya misalnya psikosis, sepsis, atau eklamsi
Virus herpes simplex type 1 (HSV-1): kontak langsung mulut bayi dengan luka di dada ibu harus dihindari sampai pengobatannya tuntas. Pengobatan ibu: psikoterapi jenis penenang, anti epilepsi opioid dan kombinasinya mungkin memberi efek samping seperti mengantuk atau depresi pernafasan sehingga lebih baik dihindari bila ada alternatif yang lebih aman kemoterapi sitotoksik mensyaratkan seorang ibu untuk berhenti menyusui selama terapi.

Bila ibu memerlukan pemeriksaan dengan zat radioaktif maka pemberian ASI pada bayi dihentikan selama 5 kali masa paruh zat tersebut. Selama ibu tidak memberikan ASI, ASI tetap
diperah dan dibuang untuk mempertahankan produksi ASInya.

3. Pertimbangan memberi susu formula pada beberapa kondisi kesehatan ibu yang lain:
Ibu yang merokok, peminum alkohol, pengguna ekstasi, amfetamin dan kokain dapat dipertimbangkan untuk diberi susu formula, kecuali ibu menghentikan kebiasaannya selama menyusui.

Beberapa situasi lain dimana dibenarkan untuk memberi susu formula :

  • Laktogenesis memang terganggu, misalnya karena ada sisa plasenta (hormon prolaktin terhambat), sindrom Sheehan (perdarahan pasca melahirkan hebat dengan komplikasi nekrosis hipothalamus)
  • Insufisiensi kelenjar mammae primer: dicurigai bila payudara tidak membesar tiap menstruasi / ketika hamil dan produksi ASI memang minimal.

Pasca operasi payudara yang merusak kelenjar atau saluran ASI
Rasa sakit yang hebat ketika menyusui yang tidak teratasi oleh intervensi seperti perbaikan pelekatan, kompres hangat maupun obat.

Kesimpulan

  1. Kecuali pada keadaan khusus, bayi cukup bulan sehat tidak memerlukan tambahan susu formula asalkan bayi diberi kesempatan untuk segera menyusu dan tidak dipisahkan dari ibunya. 
  2. Bila dianggap perlu, harus diingat bahwa tujuan pemberian tambahan susu formula adalah memberi nutrisi bayi sementara masalah diatasi.
  3. Proses menyusui dan menyusu antara ibu dan bayi perlu dinilai oleh seseorang yang memahami manajemen laktasi dan bila perlu berikan intervensi.
  4. Di rumah sakit, sebaiknya ada informed consent bila hendak memberi tambahan susu formula. Alasan pemberian, jumlah, cara pemberian dan jenis formula harus ditulis lengkap dan jelas.


Sumber : Buku Indonesia Menyusui
Penulis : Agenalkes.com

berbahayakah suara napas grok-grok pada bayi ?


Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai bayi atau anak dengan napas terdengar grok-grok yang biasanya menjadi keluhan bagi orangtuanya. Bila ini terjadi pada bayi usia muda, tidak jarang dilontarkan tudingan bahwa pada saat kelahiran, penolong persalinan tidak bersih mengeluarkan lendir bayi. Ini tudingan yang keliru, karena jika memang dalam pertolongan terhadap bayi saluran napasnya tidak bersih, maka bayi akan sesak hebat dan mungkin tidak bisa bertahan hidup.

Apa sebenarnya yang menyebabkan suara grok-grok tersebut?

Dalam keadaan normal, dinding saluran napas kita menghasilkan cairan lendir yang banyak fungsinya. Salah satu fungsi utama adalah untuk pertahanan saluran napas yaitu untuk memerangkap zat asing yang terbawa dalam udara yang kita hirup yang berpotensi menimbulkan gangguan saluran napas. Lendir ini kemudian akan dibawa keluar oleh suatu mekanisme seperti ban berjalan yang disebut bersihan mukosilier (mucociliary clearance).Bersihan mukosilier ini dapat diibaratkan seperti petugas kebersihan (cleaning service) di saluran napas kita.

Lendir yang dibawa dari saluran napas bawah ini kemudian akan sampai di tenggorokan, dan kita telan secara tidak sadar. Bila jumlah lendir ini lebih banyak daripada biasa, maka akan merangsang refleks batuk, dan kita akan batuk yang tujuannya untuk mendorong gumpalan lendir keluar. Jadi bersihan mukosilier dan batuk merupakan pasangan mekanisme pertahanan saluran napas yang sangat efektif dan bermanfaat. Anugerah dari Tuhan untuk kita. Jika tidak ada kedua mekanisme tersebut maka kita akan ‘tenggelam’ dalam lendir kita sendiri.

Pada bayi baru lahir petugas kebersihan ini belum begitu terampil dalam melaksanakan tugasnya, sehingga tersisa lendir dalam saluran napasnya. Suara udara napas yang melewati cairan lendir itulah yang menimbulkan suara grok-grok. Pada pasien yang mempunyai riwayat alergi dalam keluarga, ibu, ayah, atau anggota keluarga lain, keadaan ini dapat lebih nyata.

Bila pasien mempunyai kecenderungan timbul alergi di saluran napas maka produksi lendirnya akan lebih banyak. Pada pasien dengan keluhan grok-grok, untuk membersihkan lendir dalam jumlah yang normalpun masih kewalahan. Apalagi bila produksinya di atas normal, makin kewalahan bersihan mukosiliernya, dan makin keras suara grok-groknya.

Keadaan ini akan diperparah bila ada hal-hal tertentu yang merangsang produksi lendir lebih banyak lagi, misalnya asap rokok, bulu binatang, debu rumah, dan tungau debu rumah di dalamnya. Debu dan tungaunya banyak terdapat antara lain dalam karet bulu, boneka bulu, korden yang lama tidak dicuci.

Jadi, berbahayakah suara napas grok-grok?

Seperti dijelaskan di depan, suara grok-grok timbul karena adanya lendir yang banyak di saluran napas bayi dan anak. Dengan demikian napas grok-grok tidak berbahaya. Yang perlu dilakukan adalah mencari apakah ada hal-hal yang dapat memperparah keluhan tersebut. Jika ada maka harus diusahakan semaksimal mungkin untuk menghindarinya. Agenalkes.com

Tips menangani penyakit Diare pada anak


Diare adalah buang air besar yang frekuesinya lebih sering dan konsistensi tinja lebh encer dari biasanya. Selama terjadi diare, tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat. Pada saat yang bersamaan, usus kehilangan kemampuannya untuk menyerap cairan dan elektrolit yang diberikan kepadanya. Pada kasus yang ringan dimana proses penyerapan belum terganggu, berbagai cairan yang diberikan kepadanya dapat mencegah dehidrasi. Lebih kurang 10% episode diare disertai dehidrasi /kekurangan cairan secara berlebihan.

Bayi dan anak yang lebih kecil lebih mudah mengalami dehidrasi dibanding anak yang lebih besar dan dewasa. Oleh karena itu, mencegah atau mengatasi dehidrasi merupakan hal penting dalam  penanganan diare pada anak

Etiologi
Infeksi baik itu oleh virus, bakteri dan parasit merupakan penyebab diare tersering. Virus, terutama Rotavirus merupakan penyebab utama (60-70%) diare infeksi pada anak, sedangkan sekitar 10-20% adalah bakteri dan kurang dari 10% adalah parasit.

Cairan rehidrasi oral
Cairan rehidrasi oral (CRO) atau yang dikenal dengan nama ORALIT adalah cairan yang dikemas khusus, mengandung air dan elektrolit digunakan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi saat diare.

Tata laksana
Pengamatan klinis merupakan langkah awal yang penting dalam serangkaian penanganan diare pada anak, terutama dalam hal menemukan  derajat dehidrasi. Adanya darah di dalam tinja harus dipikirkan adanya infeksi usus oleh bakteri patogen. Peningkatan jumlah leukosit dalam tinja merupakan petanda adanya infeksi bakteri.

Terapi rehidrasi
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mencegah atau mengatasi dehidrasi pada anak yang mengalami diare :

  • mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi
  • mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung
  • pemberian cairan rumatan.

Tanpa dehidrasi
Pada keadaan ini, buang air kecil masih seperti biasa. ASI diteruskan, tidak perlu membatasi atau mengganti makanan, termasuk susu formula. Dapat diberikan CRO 5-10 ml setiap buang air besar cair.

Dehidrasi ringan-sedang
Anak terlihat haus dan buang air kecil mulai berkurang. Mata terlihat agak cekung, kekenyalan kulit menurun, dan bibir kering.  Pada keadaan ini, anak harus diberikan cairan rehidrasi dibawah pengawsan tenaga medis, sehingga anak perlu dibawah ke rumah sakit. CRO diberikan sebanyak 15-20 ml/kgBB/jam. Setelah tercapai rehidrasi, anak segera diberi makan dan minum. ASI diteruskan. Pemberian minuman seperti cola, gingerale, aple juice, dan minuman olah raga (sports drink) umumnya mengandung kadar karbohidrat dan osmolaritas yang tinggi. Minuman tersebut dapat menyebabkan diare osmotik yang lebih berat disamping mengandung kadar Na yang rendah sehingga sering menyebabkan hiponatremia. Teh sebaiknya tidak digunakan sebagai cairan rehidrasi karena juga mengandung kadar Na yang rendah. Makanan tidak perlu dibatasi karena pemberian makanan akan mempercepat penyembuhan. Pemberian terapi CRO cukup dilaksanakan pada ruang observasi di UGD atau Ruang Rawat Sehari.

Muntah bukan larangan untuk pemberian CRO. CRO harus diberikan secara perlahan-lahan dan konstan untuk mengurangi muntah. Keadaan anak harus sesering mungkin direevaluasi

Dehidrasi Berat
Selain gejala klinis yang terlihat pada dehidrasi ringan-sedang, pada keadaan ini juga terlihat napas yang cepat dan dalam, sangat lemas, keasadaran menurun, denyut nadi cepat, dan kekenayalan kulit sangat menurun. Anak harus dibawa segera ke Rumah Sakit untuk mendapat cairan rehidrasi melalui infus.

Dietetik
Memuasakan anak yang menderita diare akut hanya akan memperpanjang durasi diarenya. Air susu ibu harus diteruskan pemberiannya. Pada bayi yang telah mendapat susu formula, susu formula bebas laktosa hanya diberikan kepada bayi yang mengalami dehidrasi berat dan bayi yang secara klinis memperlihatkan intoleransi laktosa berat dan diarenya bertambah pada saat diberikan susu.  Susu tersebut  dapat diberikan selama 1 minggu. Intoleransi laktosa umumnya bersifat sementara akibat adanya kerusakkan  mukosa usus. Aktivitas laktase akan kembali normal begitu epitel mukosa usus mengalami regenerasi.  Gejala intoleransi laktosa mencakup diare cair profus, kembung, sering flatus, sakit perut, kemerahan di sekitar anus dan tinja berbau asam.

Antibiotika
Antibiotika tidak diberikan secara rutin pada diare akut, meskipun dicurigai adanya bakteri sebagai penyebab keadaan tersebut, karena sebagian besar kasus diare akut merupakan self limiting. Pemberian antibiotika yang tidak tepat akan memperpanjang keadaan diare akibat disregulasi mikroflora usus.

Lintas diare :

  • Berikan oralit
  • Berikan tablet Zinc selama 10 hari berturut-turut
  • Teruskan ASI-makan
  • Berikan antibiotik secara selektif
  • Berikan nasihat pada ibu/keluarga

Stop Kekerasan Pada Anak


Kejadian kekerasan pada anak ternyata lebih besar dari yang kita perkirakan dan tingkat kekerasannyapun diluar dugaan kita semua, bahkan bagi praktisi kesehatan sekalipun.

Ada upaya yang harus diperhatikan oleh kita yang mempunyai perhatian terhadap kejadian kekerasan pada anak. Bagaimana seorang anak tidak tinggal di lingkungan yang mempunyai faktor risiko. Faktor risiko tersebut, antara lain :

  • Keluarga yang tidak harmonis
  • Seorang wanita yang belum siap menjadi seorang ibu baik dari segi umur maupun biologis
  • Keluarga pecandu narkoba
  • Keluarga pemabuk minuman keras

Bila seorang anak terpaksa harus tinggal di lingkungan yang berisiko, maka bagaimana agar faktor risiko tersebut tidak berpengaruh kepada anak. Di negara maju, anak anak tersebut diasuh oleh negara. Pada negara berkembang, sistem demikian belum dapat dilaksanakan. Pada keadaan tersebut, kepedulian lingkungan, tetangga, RT, dan RW sangat berperan.Setiap RT harus mengetahui setiap warganya yang berisiko. Melalui Tim yang dibentuk RT, keluarga tersebut dipantau. Diharapakan kecurigaan sekecil apapun dapat terdeteksi lebih dini.

Bila terjadi kekerasan pada anak, bagaimana anak tersebut dapat tertolong segera dengan tepat agar efek negatif tidak ada/minimal. Untuk itu diperlukan:

  1. Sistem pelaporan yang jelas
  2. Kesiapan tenaga profesional
  3. Kesiapan pusat pelayanan kesehatan

Disamping organisasi profesi, banyak pula Lembaga Sosial Masyarakat yang bekerja untuk perlindungan anak. Agar semua pihak dapat berperan secara optimal, mereka perlu berbagi lingkup aktivitas dengan mengacu kepada masalah di atas. Dengan demikian, semua lingkup mesalah terpikirkan, terkawal, dan terpecahkan. Alangkah baiknya bila aktivitas tersebut dikoordinir oleh Pemerintah sebagai penanggung jawab kesehatan anak di Indonesia, agar hasil yang diperolehpun lebih optimal dan komprihensif. Agenalkes.com

Peran Mikroflora pada saluran pencernaan anak


Mikroflora atau bakteri saluran cerna bervariasi antara satu individu dengan individu yang lain. Pada beberapa individu, mikroflora selalu berubah, sedangkan pada individu lainnya berada dalam keadaan stabil. Mikroflora yang stabil dan seimbang merupakan petanda keadaan saluran cerna yang sehat. Berbagai laporan memperlihatkan bahwa saluran cerna yang sehat mempunyai dampak positif pada tumbuh kembang anak dan kesehatan anak pada umumnya.

Distribusi bakteri di dalam usus
Sebagian besar bakteri yang masuk ke dalam saluran cerna akan dirusak oleh asam lambung, sehingga di dalam lambung hanya terdapat lebih kurang 103 bakteri per gram jaringannya.  Di dalam usus halus terdapat lebih kurang 105-6 bakteri per-gram jaringannya. Jumlah ini lebih banyak dibanding di dalam lambung tetapi lebih sedikit dibanding di dalam usus besar. Diprakirakan di dalam usus besar terdapat 1011-14 bakteri per gram jaringannya.

Klasifikasi bakteri usus

  • Mikroflora di dalam saluran cerna dapat berupa 
  • bakteri yang menguntungkan (misalnya Bifidobacteria, Lactobacillus, Eurobacteria), 
  • bakteri yang merugikan (misalnya P. aeruginosa, Proteus, Staphylococcus, Clostridia, Veillonella.)
  • bakteri yang mempunyai sifat keduanya (misalnya Bacteroides, Enterococcus, E. coli, Streptococcus )

Keberadaan bakteri tersebut di dalam saluran cerna sangat berhubungan dengan kesehatan manusia. Bakteri-bakteri tersebut selalu saling berkompetisi, sehingga komposisi mikroflora saluran cerna sangat bervariasi. Sangatlah penting mempertahankan keberadaan bakteri menguntungkan di dalam saluran cerna sehingga dapat menekan pertumbuhan bakteri merugikan.

Peran bakteri di dalam saluran cerna
Bakteri menguntungkan dapat :

  1. berkompetisi dengan bakteri merugikan dengan cara menempel pada dinding saluran cerna dan selanjutnya berkembang biak.
  2. menghasilkan asam yang menyebabkan lingkungan saluran cerna menjadi asam. Keadaan ini akan menghambat pertumbuhan bakteri merugikan.
  3. menghasilkan zat yang mempunyai efek mematikan bakteri merugikan
  4. mengaktivasi sistem kekebalan tubuh
  5. Sebaliknya, bakteri merugikan menghasilkan toksin sehingga dapat menyebabkan keracunan. Bakteri merugikan juga tidak mampu mengubah sisa makanan yang dapat menyebabkan proses pembusukan saluran cerna.

Keseimbangan Mikroflora Saluran Cerna
Saluran cerna bayi pada saat baru lahir adalah steril. Segera setelah lahir pervaginam, bayi akan dikelilingi oleh bakteri yang berasal dari ibu dan lingkungannya. Sampai pada hari ke 3-4, kolonisasi mikroflora pada semua bayi hampir sama. Perkembangan mikrofolora baru terjadi pada minggu kedua dan ketiga kelahiran.

Bayi yang mendapat ASI didominasi oleh Bifidobacteria dan Lactobacillus, sedangkan bayi yang mendapat susu formula selain Bifidobacteria juga didominasi oleh Bacteroides. Di dalam ASI terdapat faktor bifidus yang  membantu pertumbuhan dan berkembang biaknya Bifidobacteria di dalam saluran cerna bayi. Bifidobacteria akan terus stabil sampai beberapa bulan, sehingga bayi yang mendapat ASI mempunyai daya tahan secara alamiah terhadap bakteri patogen seperti E.coli, Bacteriodes, dan Clostridium. Bifidobacteria,

Bakteri menguntungkan juga dapat memfermentasi laktosa (sumber utama karbohidrat di dalam ASI), sehingga turut berperan dalam proses pencernaan susu. Dengan kata lain, ASI menciptakan suasana optimal untuk pertumbuhan bakteri menguntungkan.

ASI mengandung banyak oligosakarida (fruktooligosakarida), yaitu suatu karbohidrat tidak dicerna yang merupakan makanan bagi bakteri menguntungkan. Kadar oligosakarida yang tinggi di dalam ASI merupakan faktor protektif di dalam ASI. Pada saat penyapihan dimana bayi mendapat jenis makanan yang sama dengan orang dewasa, berbagai bakteri mulai tumbuh di dalam saluran cernanya, sehingga proporsi Bifidobacteria di dalam saluran cerna berubah.

Kesimpulan
Sistem pencernaan berperan penting dalam mempertahankan kesehatan anak. Oleh karena itu penting bagi kita untuk selalu mejaga kesehatan saluran cerna, salah satunya caranya adalah mempertahankan keseimbangan mikrofkora saluran cerna yang didominasi oleh bakteri menguntungkan. Agenalkes.com